Total Tayangan Halaman

Kamis, 15 Desember 2011

Negeri Saleman




Banyak Surga Tersembunyi Di tanah Air tercinta ini. Negeri Saleman Salah satunya. Surga tersembunyi ini terletak di Negeri (desa adat) Salemen, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, sebuah negeri yang terletak di pulau Seram

Bentang alam yang memukau serta aneka satwa liar khas seran dapat dijumpai di tempat ini. Mungkin nama tempat ini belum pernah di dengar oleh kebanyakan orang. Namun nama Ora Beach Resort yang sudah terpublikasi lebih dulu hanya sebagian kecil dari potensi yang ada di wilayah negeri Saleman.

Keramahan masyarakat, pegunungan karst hijau menjulang, pantai pasir putih, terumbu karang, siap memuaskan dan meluluh lantahkan kepenatan.

Minggu, 10 April 2011

Tersesat

pada akhirnya kita akan jadi perusak atau hidup dari dan dalam kerusakan
Pada akhirnya kita akan jadi pembuat bencana atau hidup dari dan dalam bencana

Hanya yang tabah dalam derita akan menang dalam pertempuran
Seperti lai-laki yang pandai dalam soal birahi
Tanpa siasat, tanpa konfrontasi, tanpa kompromi

Pada akhirnya semua akan hancur, lebur, binasa
Pada akhirnya hanya masalah kita mau dimana
Seprti laki-laki yang pandai dalam soal birahi
Begitu alamiah, begitu nyata

Senin, 21 Maret 2011

Batasan Umur Kamera DSLR (shutter unit)

shutter kamera DSLR punya batasan umur?

Sebetulnya aku kaget dengan membaca artikel ini, yah ternyata shutter pada kamera DSLR mempunyai batasan umur berarti sama seperti shutter SLR yang masih menggunakan film , karena selama ini aku beranggapan umur shutter kamera pada DSLR akan sama seperti pada kamera digital biasa yang selama kamera & tombol shutter nya tidak mengalami kerusakan dapat selalu digunakan

untuk memotret. Berikut adalah tulisan yang aku kutip dari suatu sumber:

Pertanyaan ini kerap muncul dalam perbincangan di forum atau diskusi pemula. Kamera digital yang nota bene tak lagi memakai film kerap dibayangkan sebagai sebuah kamera yang bisa dipakai terus menerus tanpa batas. Jepret sesukanya, lihat hasilnya, tidak suka ya tinggal hapus saja. Tanpa sadar jumlah foto yang sudah kita ambil mencapai ribuan hanya dalam waktu sebentar saja. Memang tidak ada salahnya apalagi demi alasan belajar fotografi, namun bila kita hanya memotret iseng saja, maka jangan gunakan kamera DSLR. Mengapa, karena kamera DSLR punya shutter unit yang umurnya terbatas.

Jawaban dari judul diatas jelas, karena shutter pada kamera DSLR bagaimanapun juga adala

h masih sama seperti pada kamera SLR film, berupa shutter mekanik yang meski sudah dikendalikan secara elektronik namun bekerja membuka-menutup secara vertikal setiap foto diambil. Gerakan shutter inilah yang menimbulkan suara khas dari kamera DSLR saat memotret. Banyak yang belum tahu kalau shutter itu bila terus menerus dipakai suatu saat akan rusak (macet atau tidak berfungsi). Kisah yang umum terjadi adalah saat seseorang baru membeli kamera DSLR dia begitu kegirangan memotret sesukanya dan tiba-tiba dia terkejut saat mengetahui kalau shutter kamera DSLR itu ada batasnya, lalu terbayang sudah berapa banyak foto yang dihambur-hamburkannya di masa lalu.

shutterunitUsia shutter (diist

ilahkan dengan Shutter Count) memang tidak ada yang bisa memastikan. Pabrik hanya mendesain shutter unit dan melakukan pengujian hingga jumlah tertentu dan merilis hasilnya di spesifikasi kamera DSLR. Kamera kelas pemula dinyatakan lolos uji hingga 50.000 kali pemakaian, sementara kamera kelas diatasnya bisa mencapai 100.000 kali bahkan hingga 300.000 kali. Angka ini tidak mengikat, ada kamera pemula yang bisa melampaui angka 50.000 dan

ada juga yang baru 25.000 sudah rusak. Untuk melihat sudah berapa kali sebuah kamera DSLR itu dipakai, lihat shutter count di data EXIF-nya.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa shutter mekanik semacam ini masih diperlukan di kamera DSLR? Padahal kamera digital biasa mulai dari kamera ponsel sampai kamera prosumer memakai shutter elektronik dengan hanya mengandalkan sensor saja. Tak lain jawabannya adalah karena sensor pada kamera DSLR tidak bisa melakukan ‘gating’ atau on-off tanpa bantuan shutter unit ini. Saat shutter masih tertutup, sensor mengalami kondisi ‘gelap’ dan saat kita memotret shutter membuka sejenak (sesuai shutter speed yang diatur oleh kita atau kamera) lalu menutup lagi. Dari gelap pertama menuju gelap kedua itulah trigger bagi sensor untuk bekerja. Di masa depan shutter mekanik bisa saja sudah tidak digunakan, bila produsen berhasil mendesain alternatif lain yang lebih murah namun tetap handal.

Copy Paste dr:
http://kamera-gue.web.id/2010/09/01/mengapa-shutter-kamera-dslr-punya-batasan-umur/

Kamis, 24 Februari 2011

Gunung SINDORO




Jenuhnya keseharian, mengundang saya untuk mengunjungi Gunung Sindoro
Yaah.... sekedar rolahraga sambil refresing lah..!!!!!!
Mungkin sebagian orang punya anggapan miring degan kegiatan pedakian gunung
Kadang ada yang beranggapan kurang kerjaan lah, bahayalah atau anggpan-anggapan jelek yang lain
Namun apa bedanya dengan olah raga yang lain
Semua itu berisiko
Bahkan berkendara setiap haripun beresiko tinggi
Namun karena dilakukan oleh hampir setiap, unsur bahaya itu diabaikan

Bagi saya, pendakian adalah sebuah kesenangan
Kesenangan yang banyak membawa manfaat

Disampi olahraga, dari sini saya banyak belajar
Belajar bagaimana menangani emosi
Belajar bagaimana bekerja sama
Belajar mengendalikan ego
Belajar menjaga spirit
Belajar memanage diri sendiri
Belajar menghargai setiap titik air
Belajar menghargai setiap butir nasi
Belajar menghargai persahabatan
Belajar mencintai alam
Belajar melunturkan kesombangan
Dan belajar mencintai keagungan Tuhan

Seperti diketahui, pendakian merupakan kegiatan yang membutuhkan kondisi fisik yang prima
Namun fisik primapun bukan sebuah jaminan mecapai tujuan
Mental akan lebih berperan
Hambatan kondisi trek dan cuaca akan menunjukkan siapa sebenarnya kita
Disaat nafas tersengal, udara dingin menusuk tulang dan penalaranpun berkurang, saat itulah sifat dasar kita akan nampak.

Namun saat langkah telah sampai diujung pendakian, ketika puncak telah tergapai, seakan semua terhapuskan
Saat mencapai puncak terkadang rasa haru timbul dan entah karena apa air mata menitik begitu saja
Sebuah perasaan yang sangat susah diungkapkan dan sangat susah di pahami oleh orang yang belum pernah menjalani
Tapi aku rasa itu adalah sebuah bentuk syukur akan sebuah nikmat dan karunia
Saat puncak tergapai, seolah semua keinginan yang ada dalam kehidupan keseharian saya sirna
Saya hanya ingin duduk besyukur, melepas lelah, melempar pandangan kesemua arah, mengeruk habis setiap keindahan yang terpampang di depan mata

Dan pendakian bukanlah peristiwa heroik penaklukan terhadap alam
Pendakian seperti kegiatan alam bebas yang lain, hanyalah sebuah proses penaklukan diri sendiri

Sindoro 22022001, 3120Mdpl, 07.30 WIB

Senin, 14 Februari 2011

Eksotisme Pantai-pantai di Kabupaten Gunungkidul

Gunungkidul merupakan kabupaten paling timur di Yogyakarta. Sebagian besar wilayah pesisirnya merupakan bentang lahan berbatu kapur. Bentang lahan jenis ini menurut ilmu geologi, merupakan terumbu karang yang terangkat ke permukaan karena proses tumbukan antar lempeng-lempeng kulit bumi. Karena berbahan dasar kalsium karbonat, batuan ini mudah tererosi secara kimia oleh zat asam, yang terkandung dalam air hujan. Proses pelarutan ini di sebut karstifikasi. Dampak dari pelarutan ini, terbentuk perbukitan kapur yang eksotis. Bentang lahan semacam ini biasa disebut "bentang lahan karst atau kawasan karst"

 

Pantai-pantai di kawasan karst juga berbeda dengan pantai-pantai di kawasan lain. Pantai bisa berupa pantai landai dengan pasir putih, namun juga bisa berupa tebing curam dengan ketinggian yang bisa mencapai puluhan meter. Masing-masing pantai menyuguhkan pemandangan yang eksotis dan daya tarik yang berbeda-beda.


Pesisir Gunungkidul membentang dari barat, mulai sebelah timur pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul, ketimur berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa tengah. Diantara pantai-pantai itu adalah:


1. Pantai Sadeng

Pantai sadeng adalah pantai tertimur di Kabupaten Gunungkidul. Pantai ini merupakan pelabuhan nelayan. Perahu dan kapal berukuran kecil, bisa bersandar di pantai ini. Suasana pantai dan akifitas nelayan dengan kapal-kapalnya, menjadi hal yang menarik untuk dinikmati.

Namun, sebelum mencapai Pantai  Sadeng, perjalanan akan melewati sebuah lembah memanjang, bernama Bengawan Solo Purba. Kenapa diberi nama demikian?

Menurut ilmu geologi, pantai Sadeng dulunya diduga sebagai muara dari Bengawan Solo Purba. Teori kebumian yang ada menyatakan, tadinya Bengawan Solo bermuara di pantai selatan Pulau Jawa. Karena proses pergeseran lempeng benua, lempeng Indo-Australia menumbuk lempeng Benua Asia, menyebabkan pengankatan. Akhirnya, dengan hulu yang sama, aliran Bengawan Solo berbalik ke utara. 


Pantai Ngungap

Lebih tepatnya bisa disebut Tebing Ngungap. Tebing curam stinggi  kurang lebih 50 meter menjadi titik temu antara daratan dan lautan. Areal kawasan yang tak terlalu luas ini, menjadi areal konservasi dengan berbagai macam tumbuhan dan binatang yang menghuninya. Namun aku tak mempunyai informasi lebih banyak tentang temapt ini.


Memasuki kawasan ini kita tidak bisa membawa masuk kendaraan. Terdapat semacam pintu yang menghalangi jalan untuk masuk kendaraan. Mulai dari pintu masuk kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 300 meter, jalan berbatu yang sudah sangat baik.


Mulai memasuki kawasan terdapat papan larangan membawa kendaraan dan melakukan aktifitas merumput, mencari kayu di area konserfasi serta memancing dan mencari udang disekitar rumah walet di dinding tebing itu. Ooooww ternyata ada sarang burung walet di bawah sana.


Selepas membaca papan pengumuman itu, 100 meter didepan sana, nampak sebuah pendopo dengan halaman berumput rapi yang ampak alami. Rapi namun bukan karena di pelihara. Sepanjang jalan menuju pendopo terasa sejuk, karena dinaungi pepohonan yang tak aku tahu juga namanya. Dalam imajinasiku seperti membentuk sebuah lorong.

Wakakakakakakakkkk..., ternyata minim sekali pengetahuanku.

Bodoh sekali ternyata diriku


Pendopo namapak sangat tidak terawat dan rusak di beberapa tempat. Namun tempat ini sangat begitu asri, tenang dan damai. Seandainya ada semacam home stay tentu nyaman sekali menginap di tempat ini. Saat malam akan menjadi indah diiringi nyanyian deburan ombak yg menggelora, ditemani rembulan dan gemintang yang mengerling nakal. Tentu cocok sekali untuk honeymoon. Kalu sudah sperti ini tendapun jadi.

Aaaaaaaaakkakakakakkkk........., otak kotorku nongol lagi


Di seberang pendopo terdapat pagar yang jadi pengaman tepat di bibir tebing.

Huaaaaaaah... sungguh perasaan yang sangat luar biasa saat mata lepas jauh memandang tak terbatas.

Garis horizon melengkung biru seluas mata memandang lautan. Aku tertegun dan merasa kecil. Hanya perasaan sangat nyaman dan syukur aku  bisa berada di tempat ini.

Sesaat kemudian kulihat kesisi selatan pendopo. Nampak jalan setapak disela hutan pandan. Dengan penasaran aku menuju kesan. TErnyata di seberan ada semacam tanah lapanng sempit. Dari sini pandangan ke arah timur benar-benar tak terhalangi. Nampak ajaran tebing pantai yang benar-benar eksotis membentang disisi sana. Sekali lagi perasaan nyaman itu hinggap, seperti memancang kakiku agar tak henyak dari tempat ini. Namun beberapa saat kemudian setelah mengambil beberapa frame gambar dan menghabiskan beberap batang rokok yang menjadi satu-satunya teman setiaku ku putuskan untuk beranjak. Aku harus menuju Pantai Wedi Ombo, pantai eksotisku berikutnya. Terasa hancur hatiku harus berpisah, meniggalkan dirimu Pantai Tebing Ngungapku. Huuu... hu.... hu... hu....



Pantai Wedi Ombo

Setelah meliuk melahap tikungan ekstrean  jalanan aspal khas Gunungkidul sampailah kepantai berikut. Namanya Wedi ombo, dalam bahasa indonesia wedi berarti pasir dan ombo berarti luas, jadi secara harfiah berarti pasir yang luas.

wakakakakakakakkkk bener "harfiah" ga sih.

Dasar sok tahu deh aku......

Memang demikian adanya. Hamparan pasir putih agak kecoklatan sedikit membentang, menurut perkiraan ku, tak kurang dari 1 kilo meter. Kalaupun kurang, pasti sedikit sekali, karena malah bisa lebih

Ahihihihiihihihii.


Sisi pinggir pantai di naungi pepohonan, sehingga kalo kecapekan jalan-jalan atau bermain pasir atau bermain air bisa langsug ngadem. View pantai dengan jajaran perbukitan di sisi kiri danbebatuan di tengan sana yang menyebabkan pecahnya hempasan ombak jadi suguhan utama. apa lagi saat matahari terbenam, pasti lebih molek. Karena menurutku, kalu ga bingung pantai wedi ombo menghadap kebarat. Jadi tinggal tunggu sore, siapkan kamera dan berharap cuaca baik. Pasti langit kemerahan tercermin di bentang lautan akan memjadi pemandangan yang wow wow wow, luar biasa.


Nilai eksotis dari pantai Wedi Ombo, disamping keindahan viewnya juga kandunagn ilmiahany. Disini kita bisa melihat batuan dasar dari batuan gamping. Sebenarnya Gamping merupakan terumbu karang yang menumpang pada batuan vulkanik dan terangkat ke permukaan karena tumbuaka antar lempeng benua. Terbayangkan batuan kapur yang tingginya bisa rausan bahakan ribuan meter diatas permukaan air laut tadinya berada di bawah muka air laut. Perlu diketahui, kabarnya sebagian pegunungan cartens merupak batuan gamping. Sungguh mencengangkan kalau tempat itu tadinya terendam di lautan. Waaawwwww..........


Jiaaaaahh

Puanas teriik. Rupanya dah tengah hari. Haus, perut juga juga mulai protes minta di isi ulang. Aku sempatin minunm segelas esteh seharga 2000 rupiah. Namun Aku berniat makannya nati di pantai siung aja sekalian istiraht. karena sebelumnya targetku mamang fokus ngambil gambar. And than, ku putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Siung.

Bruuum brummm, mator ku starter dan melaju kearah pantai siung.




Pantai Jogan

Setelah kurang lebih 15 menit perjalanan, aku mulai mendekati pantai siung. Namun di pertigaan ke pantai Jogan kupustuskan sekalian mampir ke pantai ini dulu karena terlewat dan masih satu komplek. Sebenarnya pantai jogan juga merupakan tebing pantai, namun ketinggiannya tidak terlalu, hanya sekitar 10-15 meter. Namun menariknya, di pantai ini dapat ditemui sebuaha air terjun yang juga di beri nama Jogan. Air terjun ini berhulu pada sebuah sungai bawah tanah yang keluar dari mulut gua. Air terjun ini lasung meluncur turun dan jatuh di pantai kecil di bawah sana dan bercampur dengan air laut. Dalam kondisi pasang pantai kecil itu terendam, menyisakan pemandangan buih putih deburan ombak yang sesekali mencapai bibir tebing karena besarnya hempasan gelombang. Suaranya menggetarkan dada saat berada di dekatnya tak ubahnya suara merdu gadis pujaan hati, Hi.... hi... hi.....


Pada bibir air terjun terbentuk ornamen semacam flowstone. Di berikan nama flowstone dikarenakan bentukannya menyerupai luapan air dari sebuah wadah air. Bentukan ini tercipta dari endapan batuan kapur yang tadinya terlarutkan oleh air yang mengandung asam. Setelah larutan itu jenuh akhirnya akan mengendap.

Pada bagian atas air terjun Jogan, terdapat semacam tanah lapang kecil di tepi sungainya. Yah cukup untuk sekedar bersantai-santai menikmati pemandangan yang elok ini. Ha.. ha....

Seandainya membawa tenda tentu asik sekali bermalam di tempat ini. Setelah malamnya ngalor ngidul ngobrol dan akhirnya tertidur pulas, keesokan harinya bisa langsung nyemplung ke kali untuk membersihkan diri dan menyegarkan badan, sambil di suguhi pemandangan lepas pantai selatan yang bagai tak berbatas.

He... he.... he....

Sebuah cara yang mudah dan efektiuf untuk menyegarkan badan dan pikiran.


Di area komplek tebing Pantai Jogan ini di penuhi dengan tanaman pandan, sehingga membentuk semacam hutan. Beberapa jalan setapak dapat di temui. Jalan ini biasanya dipakai penduduk setempat untuk mencapai ladang serta tempat-tempat strategis untuk memancing atau mencari lobster dengan cara ngrendet. 


Ngrendet adalah teknik mencari lobster dengan cara memasang jebakan yang terbuat dari jaring yang di rangkaikan pada sebuah lingkaran yang terbuat dari besi. Diameter lingkarang kurang lebih 30cm. Selanjutnya deberikan umpan dan di lempar ke dasar tebing setelah perangkap itu di berikan sebuah tali untuk menjaga agar tak terhanyut dan untuk mengangkat jebakan itu sendiri. Setelah lobster masuk dan memakan umpan, dia akan terjerat oleh jaring yang terbuat dari trajutan tali atau senar plastik yang halus.

Siapa yang menciptakan alat ini pertama kali ya?

Ha... ha.. ha... yang pasti bukan akulah, Hii... hi.... hi.... hi....

Sudah tak usah aku pikirkan, daripada rambutku rontok nanti, mending kulanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya yaitu pantai siung. Lagian perutku juga semakin garang dalam berdemo karena minta segera diisi.



Pantai Siung

Pantai siungdikalangan penggiat alam bebas lebih dikenal dengan tebingnya.  Tebing-tebingnya biasa digunakan untuk kegiatan panjat tebing alam. Bahkan pernah diadakan acara Asian Climbing Gathering di tempat ini. Namun view pantainya pun tak kalah menarik untuk dinikmati. Pantai yang terbentuk disebuah teluk ini masih relatif baru. Oleh karena tergolong cukup terkenal, sudah banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung.


Hamparan pasir putih terdapat di pantai siung yang relatif masih alami. Belum banyak fasilitas di bangun di tempat ini. Namun setidaknya sudah dibangun halaman parkir  yang cukup luas, warung-warung dan fasilitas seperti mushola serta toilet. Di sisi sebelah timur merupakan perumahan bagi nelayan. beberapa kepala keluarga tinggal di tempat ini. Saat musim baik kita bisa membeli langsung ikan dari nelayan yang bersandar.


Sekarang waktunya makan. Berhubung kebetulan sedang musim ombak tak banyak pilihan menu ikan bisa dinikmati. Denan merogoh Uanga kurang dari Rp. 10000 , aku sudah bisa makan kenyang dan menikmati segelas esteh manis.


Setelah istirahat sejenak, aku enuju sebuah bukit. untuk mengambil gambar. Di sebelah barat pantai siung terdapat bukit yang cukup tinggi, Dari bukit ini kita bisa melihat secara utuh pantai siung. Saat memandang kearah timur tatapan akan  terbentur pada perbukitan tinggi yang begitu anggun. Jadi dari tempat ini kita bisa tahu kalu sebenarnya pantai siung merupakan ujung dari sebuah lembah.

Pada saat-saat tertentu dapat di jumpai gerombolan kera ekor panjang, bermain-main pada tebing-tebing yang banyak terdapat di pantai siung.

Makan sudah, ambil gambar sudah

Okeyh......

Waktunya lanjutkan perjalanan ke pantai berikutnya




Pantai Nglambor

Kebetulan beberapa saat yang lalu aku mengunjungi pantai siung. Waktu itu aku mendapat informasi, kalau ada pantai baru. Jalan menuju kesanapun baru saja di bangun, masih berupa susunan batu. Membuat penasaran saja

Ahaa...

Waktunya bersenang-senang

Setelah beberapa saat keluar dari area pantai suing , begitu keluar dari jalan aspal, langsung ku pelintir gas,

Waktunya olah raga

Tanjakan dan turunan jalan dengan susunan batu, menantang untuk dicumbui. Jalan baru itu sepi dari petani yang biasa melaluinya. Aku bebas memacu. Roda menggilas lubang sesekali melejit, shock absorber bekerja keras meredam hentakan.

Heehhhh,…

Memicu adrenalin, apalagi ketika sampai di puncak tanjakan langsung turunan cukup tajam

Waaww

Pemandangan yang luar biasa, di depan sana pantai dengan pulau kecil di tengahnya. Sulit untuk mendiskripsikan keindahannya. Segera ku keluarkan kamera dan mencuri keindahan itu. Sangat tidak rugi sampai di tempat ini. Di belakang dua buah gubung yang berdiri di lembah dan punggung bukit juga ikut mencuri perhatian



Gubung-gubug ini biasa di gunakan petani untuk beristirahat. berbagai peralatan masakpun biasanya ada. Petani setempat seharian berada di ladang, dari pagi sampai petang. Sehingga siang hari kadang mereka masak atau sekedar merebus air untuk membuat teh panas.

Hedewh...!!!!

Terbayang kenikmatan menyeruput teh tawar panas yang khas rasanya. Apalagi sambil melihat kearah panatai.

Serasa komplit sudah hidup......

Wakakakakakakakkkkkkk

Namun sayang semua itu hanya lamunan, namun hampir  seperti nyata dalam imajinasiku sambil enik mati keindahan pantai Nglabor.

He.. he.. he....

Belum puas, namun hari sudah beranjak sore, next dan next. Harus menuju pantai berikutnya.



Pantai Timang

Pantai ini tidak begitu jauh dari pantai nlambor, kurag lebih 15 menit perjalanan. Berbeda dengan kunjungan pertamaku. Kondisi jalannya sudah jauh lebih baik. Terdapat pantai kecil disini, aku ingat saat pertama kali kesini pagi-pagi sekali. Matahari sudah agak meninggi tetapi masih kemerahan. Tebing disisi timur menjadi siluet karena laut menjadi kuning keemasan menyilaukan. Pemandangan menakjubkan

Namun yang membuat tempat ini menjadi lebih eksotis, terdapat sebuah kereta gantung manual, yang biasa disebut gondola. gondola digunakan para pemancing untuk mencapai sebuah pulau kecil di tengah laut yang berjarak sekitar kurang dari 100 meter. Wuih serem, apa lagi deburan ombak di bwah sana begitu dahsyat.

Keranjang kereta terbuat dari kayu dengan roler-roler dari logam pada empat titik. Roler-roler itu akan meluncur pada tali plastik berukuran besar, mengantarkan  gondola dengan penumpangnya.



waktu sudah semakin sore, tak terasa jam menunjukkan hampir jam 17.00. Target untuk menelusuri seluruh pantai gagal. Aku salah perhitungan rupanya. Ternyata tak cukup satu hari untuk mengunjungi semua pantai di Gunungkidul. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu matahari terbenam di pantai timang berteman dengan kesendirianku.

Setelah menjamak sholat dhuhur dan asar aku mempersiapkan kamera. namun ternyata harus berhemat. batre mulai low.

Beberapa menit namun waktu berjalan lamban. mendungpun mulai mengusik harapan untuk mendapatkan sunset terbaikku.

Huft...

Tak apalah

Itulah alam.

Kita boleh berharap, namun kekuatannya hanya bisa kita ajak kompromi bukan untuk kita tandingi.


Matahari semakin turun di ufuk barat.

Langit kemerahan refleksi mentari senja walau lebih sering bersembunyi dibalik awan.

Tak aku sia-siakan untuk merekam setiap momen itu, apapun hasilnya.

Hanya kepasrahan atas kemurahan-Nya dalam pikiranku, bersama kesendirian dantara karunia gemuruh deburan ombak dan langit yang merah merona, yang tetap terasa indah walau berhias awan hitam. Seraya berdoa jangan cepat engkau kembali keparaduan. Karana kegelapan malam akan segera menggantikan rona merah indahmu.

Namun takdirmu perputaran waktu, tak mungkin kau mengabulkan rengekku itu.

Karena esok pagi kau harus kembali, menciptakan keindahan-keindahan lain unuk makhluk-makhluk yang lain.

Bulkan hanya aku dengan keegoisanku.


Huft...

malam segera hinggap. aku harus kembali meninggalkan tempat ini.

masih banyak pantai-pantai lain dilain hari yang harus kusambanngi. Masih ada Sundak, Sepanjang, Kukup, Krakal, Drini, Baron, Ngrenehan, Ngobaran yang belum sempat aku datangi kali ini. Next time lah aku selesaikan project pantai-pantai ini.

    Januari 29/2011

    Minggu, 13 Februari 2011

    Yogyakarta

    Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

    Kraton Yogyakarta
    Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.
    Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

    Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.
    Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

    Jogja saat ini memang memiliki banyak keistimewaan. Predikat kota budaya dan pendidikan patut disandang. Tradisi yang kaya dengan filosofi-filosofi kehidupan masih cukup terpelihara. Banyak sekolah dan perguruan tinggi berdiri di Jogja, menjadi tujuan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menuntut pendidikan.

    Disamping itu kekayaan budaya, kreatifitas, kemolekan alam dan keramahan penduduknya sangat mendukung Jogja sebagai kota pariwisata. Banyak tempat-tempat eksotis yang layak untuk dikunjungi.