Total Tayangan Halaman
Jumat, 13 Juni 2008
Spirit
Awal revolusi kuba digawangi 3 orang legendaris radikal ( dua bersaudara Raul dan Fidel Castro dan Ernesto “che” Guevara). Diawali masing-masing membawahai 5, 7 dan 11 gerilyawan revolusioner, mampu menjadi kekuatan besar yang akhirnya mengacak-acak kekuatan imperialisme kotor, korup dan keji. Mereka terlahir di tempat terpencil. Walaupun bukan tergolong orang miskin namun lingkungan yang begitu dekat dengan orang miskin membentuk kepekaan, watak dan kepribadian mereka. Mereka tak memperdulikan fasilitas, posisi dan jabatan, yang sebenarnya dapat saja dengan mudah mereka dapatkan. Ketiga hal busuk itu begitu jauh dari benak mereka.
Entahlah jika orang-orang ini lahir kembali di tanah air tercinta ini. Tentu akan menyusahkan banyak orang. Indonesia sendiri pernah mencatat sejarah Sudirman, Hatta dll. Bagaimana mantan wapres RI pertama ini harus menggadaikan perhiasan istrinya untuk membayar tagihan listrik sambil menunggu uang pensiun. Dan kabarnya akhirnya bersimpangan dengan RI 1 I. Bagaimana pula jenderal pertama Indonesia “Sudirman” pernah berkata, tak ingin mati di tempat tidur. Dia lebih suka mati di medan pertempuran walaupun di gerogoti paru-paru akut dan harus di tandu dalam meminpin pasukan.
Tapi justru mencari buku atau dokumenter biographi orang-orang besar Indonesia, lebih susah di tanah air tercinta ini (ato aku yang gak gaul ya.??) ha…ha…ha….
Sebenarnya diluar sisi heroisme yang memang nggak bisa lepas dari figure mereka yang kebanyakan lahir di lapis masyarakakat bawah, banyak cerita humanis dan jiwa-jiwa yang bersih dari sekedar urusan kebendaan dan duniawi. Bgaimana mereka mampu menjaga semangat dan idealisme yang mampu memberi kekuatan luar biasa di tengah halangan dan terpaan ancama fisik yang kadang diluar jangkauan akal manusia.
Kapan kisah-kisah manis ini akan terulang, Who knows….????
Rabu, 11 Juni 2008
Nilai Penting Dokumentasi
Suatu saat saya dihubungi teman, disuruh dokumentasi foto. Sebenarnya yang diminta dia sendiri, namun karena berhalangan dengan acara lain, baliaunya minta tolong saya untuk menggantikannya. Ceritanya, sebuah perusaaan asing besar di Papua mengadakan pelatihan managemen untuk stafnya, di gawangi oleh sebuah PTS besar di Jogja. Namun saya bingung, sebisa mungkin hasilnya harus langsung di bawa. Masalahnya itu hari terkhir mereka dan harus segara kembali. Mau pake SLR analog masih ragu hasilnya dan yang pasti memakan waktu untuk bisa menjadi gambar. Mau pake digital SLR ga punya. Sampai hari H aku datang ke hotel tempat acara. Dengan berbekal sebuah kamera digital pocket pinjaman dari teman kuberanikan diri untuk maju. Sesampai dilokasi aku langsung bilang “pak saya nggak bisa membawa alat yang memadahi” maklum dalam benakku, ini kegiatan yang diadakan orang2 penting. Namun tahu apa jawabya? “ah…alat ga terlalu penting, yang terpenting ada hasilnya, dan yang lebih penting lagi fotonya bisa digunakan sebagai bukti dan laporan ke perusahaan. Dan lagi pula kami kan butuh kenangan”. Aku baru sadar oh..iya juga ya..!
Sabtu, 07 Juni 2008
Penetapan Kawasan Ekokarst
Mungkin beritanya udah lama tapi patut disimak buat referensi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 6 Desember mendatang direncanakan akan meresmikan pencanangan wilayah geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan eko-karst di pendopo Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.
Jumat, 03 Desember 2004 - 13:42 WIB
Siaran Pers DESDM, Nomor 18/HUMAS DESDM/2004
Wilayah Geologi Gunung Sewu dan Gombong Selatan Dicanangkan Sebagai Kawasan Eko-Karst
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 6 Desember mendatang direncanakan akan meresmikan pencanangan wilayah geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan eko-karst di pendopo Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.
Penetapan wilayah eko-karst tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 961.K/40/MEM/2003 tanggal 23 Juli 2003 dan Nomor: 1659 K/40/MEM/2004 tanggal 1 Desember 2004. Pada kesempatan tersebut akan dilakukan kunjungan lapangan ke Gua Bribin, Desa Bribin, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.
Maksud dan tujuan utama dari acara tersebut adalah memberi apresiasi terhadap lingkungan fisik dan biofisik kawasan karst di daerah Gunungsewu (yang mencakup wilayah Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Pacitan) dan Gombong Selatan (Kabupaten Kebumen), yang dinilai memiliki unsur strategis tinggi. Unsur yang mencakup aspek ilmiah, ekonomi, kemanusiaan, dan konservasi itu merupakan dasar dan pilar utama bagi kegiatan pengelolaan kawasan yang berbasis pada pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. Sasaran akhirnya, tentu saja adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat yang telah menghuni kawasan itu secara turun temurun, yang pada umumnya merupakan komunitas marginal.
Kawasan karst di Gunungsewu dan Gombong Selatan memiliki aneka fungsi yang berkaitan erat dengan situs pengembangan iptek, sumberdaya alam hayati dan nirhayati yang memberi nilai ekonomi jangka pendek dan jangka panjang, tatanan sosio-budaya masyarakat setempat yang khas, dan konservasi sumberdaya alam.
Nilai ekonomi kawasan karst antara lain dapat digali dari aspek sumberdaya mineral (pertambangan), pengelolaan air, pariwisata, kehutanan, pertanian, perikanan, sumberdaya ekonomi walet dan sebagainya.
Kegiatan eksploitasi nilai ekonomi di kedua kawasan karst itu harus dapat diselaraskan dengan upaya pelestarian nilai-nilai strategis yang dimiliknya. Dengan demikian, landasan dan hakekat pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan di kawasan karst yang di Indonesia terdapat hampir di semua pulau, dari Aceh hingga Irian Jaya.
Isu kekeringan yang melanda kawasan karst di daerah Gunungsewu hampir setiap tahun merupakan keprihatinan bersama, sementara dari aspek hidrogeologi kawasan kars merupakan lumbung air yang tersedia sepanjang tahun. Sungai bawahtanah di Gua Bribin, Kabupaten Gunungkidul, merupakan usaha manusia memanfaatkan sumberdaya air karst yang diberikan oleh alam. Sungai bawahtanah Bribin yang debitnya sekitar 750 liter/detik akan dimanfaatkan sekitar 80-100 liter/detik untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi 79.000 jiwa atau 6.000 KK penduduk di sekitar gua. Teknologi yang digunakan adalah menyedot air yang berada sekitar 104 m di bawah permukaan tanah setempat dengan menggunakan pompa listrik. Sumber tenaga listrik diperoleh dari energi mikrohidro yang dibangun di dalam gua, berupa bendung setinggi 15 m, yang akan menciptakan beda tinggi permukaan sungai bawahtanah. Energi potensialnya akan menggerakkan generator, sehingga dapat dihasilkan energi listrik sebesar 250-300 KW yang cukup untuk menggerakkan pompa. Pengambilan jumlah air yang jauh di bawah debit adalah untuk melestarikan sumberdaya air itu sendiri, karena dimungkinkan di bagian hilirnya, sebelum ke luar sebagai mata air Baron, terdapat beberapa mata air yang manfaatnya sangat penting bagi masyarakat setempat.
Sebagai pemodelan pengelolaan kawasan karst secara terpadu, holistik, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup, apa yang sudah dilakukan di daerah Gunungsewu dapat dicontoh oleh daerah karst lainnya di Indonesia.
Isu lain yang akan diangkat dengan adanya pencanangan di atas adalah hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kehutanan, lingkungan hidup, dan pariwisata. Kehutanan di kawasan karst diproyeksikan tidak hanya dari nilai ekonominya saja, tetapi juga pada aspek yang lebih penting yaitu fungsi orohidrologi (tanaman yang berfungsi melestarikan air). Sedang dari sisi lingkungan hidup adalah bagaimana mengemas semua kegiatan eksploitasi nilai ekonomi tidak memberi dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan hayati dan nirhayati yang daya-dukungnya sangat rendah, rentan terhadap perubahan sekecil apapun. Dari sisi pariwisata perlu dikemas kegiatan rekreasi yang sifatnya tidak merusak lingkungan, seperti misalnya ekowisata.
Sumber : Biro Hukum Dept. ESDM
link: http://www.dgtl.esdm.go.id/modules
Jumat, 06 Juni 2008
Survei Terestrial
Kondisi geologis dan geografis dipermukaan tanah yang kering di sebagian kawasan karst meninggalkan petaka bagi penghuninya. Bencana kekeringan mengancam setiap musim kemarau tiba. Namun siapa tahu di bawah permukaan tanahnya menyimpan aliran sungai bawah tanah yang mengalir deras. Disinilah peran ilmu pengetahuan dituntut untuk mampu membantu permasalahan umat. Penelusur gua dan ahli-ahli karst bisa mengambil peran dalam kondisi ini, karena pengalaman sebelumnya geolistrik lebih sering tak berdaya dan memboroskan biaya
Kamis, 05 Juni 2008
Aku
Selasa, 03 Juni 2008
Survei Potensi
| Start: | Jun 4, '08 06:00a |
| Location: | Komplek Siung |
Kontroversi Kawasan Karst
Kontroversi pemanfaatan potensi alam di kawasan karst mungkin hal yang sudah jamak. Ini dapat di pahami, karena kawasan ini sangat rentan mengalami degradasi. Kekayaan ilmiah dan hayati selalu bertolak belakang dengan ekploitasi di bentang lahan yang banyak orang mengatakan eksotis. sampai saat ini belum ada formula yang mujarab untuk mengatasi permasalahan ini. Konflik berkepanjangan berbagai kepentingan baik berbagai instansi maupun para ahli mewarnai setiap pembahasan oleh forum-forum yang pernah ada. Namun semua itu menjadi sia-sia karena sering melupakan apa dan siapa kawasan karst itu sendiri. Kadang dalam setiap perbincangan banyak ahli yang melupakan bahwa ada orang-orang yang tinggal di tempat itu dan perlu dipikirkan. Namun kadang ada pula yang memanfatkan keberadaan penduduk sebagai legalitas pendapatnya.
Ah bikin bikin pusing aja... Namun bagi orang-orang yang peduli mau tak mau harus ambil pusing. Penambangan gamping dan fosfat semakin mengancam. Baru-baru ini Gua tlogo mulai dirambah para penambang fosfat. sebagian penduduk setempat mulai sadar dengan kondisi ini. Pengalaman Gua lowo yang rusak dan tidak menghasilkan manfaat seberapa bagi penduduk setempat membuat mereka tersadar. Namun para penambang tak kalah cerdik dengan lobi-lobi ala orang mapan berdasi di kota besar sana. Undangan makan ditujukan kepada personal pemilik tanah. Padahal sampai saat ini tidak ada ketegasan tentang pengelolaan dan kepimilikan sebuah gua, walaupun peraturan sudah ada. Belum lagi cerita lama keangkuhan orang-orang "beruang" yang melakukan penambangan gamping di komplek bedoyo da tempata lain yang merupakan reservoar air untuk gua-gua disekitarnya, dan bukan tidak mungkin merupakan daerah tangkapan air yang menyuplai ke sungai bawah tanah bribin yang sedang diupayakan untuk dimanfaatkan untuk menghidupi ribuan orang yang mengalami kesulitan air bersih di Gunungkidul tiap musim kemarau tiba.
Jadi pertanyaannya tidak adakah pemanfaatan yang lestari untuk kawasan ini. Yang menguntungkan semua pihak bukan hanya sebagian orang saja. Atau ketamakan dan kerakusan harus mengangkangi bentang lahan eksotis ini. Ataukah lagi harus menunggu perdebatan panjang yang entah kapan berakhir dan entah apa ada aksi riil setelah rembug dan debat itu usai. Yang pasti penduduk setempat akan menanggapi setiap tawaran berbau ekonomi karena mereka memang selayaknya mendapat manfaat ekonomi dari tempat dimana mereka lahir dan mengais rejeki. Tinggal siapa yang maju terlebih dahulu orang rakus atau orang yang berpikir panjan bagaimana kehidupan kedepan. Tapi biasanya orang rakus lebih optimis dan berani untuk maju.
Ini hanyalah keluh kesah dilandasi seidkit rasa tak berdaya. Dan maafkan pula jika kekurangthuan serta keterbatasan wawasan saya membuat tulisan ini muncul Jangan sampai ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Bila ada yang ingin mengklarifikasi atau berbagi pengetahuan itu memang yang ditunggu-tunggu.
Tulisan Komplitnya Nyusul ya....ha...ha...fotonya mungkin nanti juga ada..he..he..he..tapi gak janji kapan. hi..hi..hi..