Total Tayangan Halaman

Minggu, 14 Maret 2010

Kisah

892010

Mengikuti kedua kisahmu membuatku mual

Banyak hal diluar nalar dan penalaran

Kupikir perbedaan jender membuat beda cara berpikir kita

Bagi kami hidup harus dihitung, kalo begini jadi begitu, kalo begitu jadi begini, kalo begitu apa untungnya kalo begini apa ruginya

Tetapi bagi kalian hidup tak ubahnya permainan hati, hanya perlu sedikit tahu esensi selebihnya perasaan lebih mewarnai

Hehhhhhhhhhhhhh……

Aku semakin tak mengerti

Vonis Kisahmu si penyambut ajal

Vonis Kisahmu seakan si  tak berdaya, karena karya kasar penalaran kami

Namun semakin ku mual membuatku tersadar akan kebodohanku, ketidak mengertianku, kesok tahuanku

Satu hisap dua hisap tiga hisap, satu batang dua batang tiga batang, sambil sesekali seteguk air berwarna coklat bening karena seduhan dahun yang di petik oleh wanita-wanita berkeringat yang tadi pagi sarapan dan membawa bekal sebungkus asa, menggelontor tenggorokan yang di lapisi lendir karena menghisap daun yang terbakar yang waktu lalu di petik oleh laki-laki tua bermandi peluh disiram terik matahaari

Otak bekerja semakin keras siring hati yang lamabat laun melayu menyadari kesombongan diri

Ternyata kau manusia, kamu manusia, aku manusia yang lebih sering salah bersandar dan menyandarkan setiap masalah karena terlalu asik dengan nalar yang kita lupakan siapa yang telah berikan

Hanya saja mungkin karena sok tahuku aku menilai kau dan kamu terlalu asik dengan sedikit penalaranmu

Sementara aku di sini Cuma berdiri mengawasi yang lebih sering lengah daripada melihat kalian, karena memang bukan itu karena sok tahuku kuanggap bukan garisku

Semakin mualku belum akan berakhir, semakin mualku semakin kunikmati untuk lebih menyadarkan diri

Terkecuali jerat yang ku jeratkan sendiri membuatku tak bisa beranjak ketika mata terbuka hati terbuka nalar bekerja ketika saksikansegumpal batu besar datang bergulung membara merah dengan ekor api menjilat panjang siap remukkan tubuh ini dan datang berkali kali samapi sisakan kotoran kecil yang sebabkan bau anyir seluruh muka bumi ini

Semoga jerat itu segera ku lebur luruh hanyut oleh air suci di sinari surya mentari pagi

KERINDUANKU

Aku merindukanmu, ketika rajutan benang-benang nylon warna warni terajut mengalung akar-akar pohon dan batu-batu cacat digerus asam anugerah Tuhan

Aku merindukanmu, ketika gemerincing logam melengkung beradu menyatukan sperangkat tautan nyawa

Aku merindukanmu, ketika seutas tali menjuntai menyuruak kedalam ruang dan waktu gulita menyimpan berjuta misteri

Aku merindukanmu, ketika jantung berdebar mengusir gelisah ketika seonggok tubuh ringkih menantang ajal

Aku merindukanmu, ketika depa demi depa tubuh merangsek menyambut senja menuju kegalapan abadi

Aku merindukanmu, ketika kepasrahan bergantung menciutkan nyali membungkam sumpah serapah yang sering tumpah dari mulut congkak yang lupa akan arti conkak

Aku merindukanmu, ketika rasa syukur terbersit sedikit, terjepit keakuan lupa akan perjalanan kecil menebar pukat menjaring mimpi kecil

Aku merindukanmu, ketika peluh mengalir membasahi  raga terseka gelap terhapus binar-binar cahaya diatas kepala memberkas menimpa batu-batu besar kecil yang seakan berlomba menari, bersolek, melenggok coba pukau jadi saksi keagungan sistematis kuasa Ilahi tersimpan dalam kegelapan malu-malu takut dijamah tangan-tangan pendosa yang rakus walaupun tubuh telah terisi penuh batu-batu dan kotoran yang najis bersemayam, karena enggan berbagi bahagia dengan batu-batu dan kotoran, atau karena tubuh itu tidak pernah berbahagia

Aku merindukanmu, karena aku masih bermimpi cair bersama bulir-bulir air yang mengukir setiap relief yang ingin bercerita bertukar cinta dengan butir-butir air yang begitu mencintai insan-insan dahaga yang melupakan makna dahaga

Aku begitu merindukanmu, karena aku masih merindumu ingin berbagi cerita dengan sesame bersama orang-orang yang juga merindukanmu

Aku merindukanmu, saat kau berbisik lirih kau risau terusik dengan hadirku dan aku berkata, tetaplah lelap dengan pekatmu, aku hanya ingin sedikit mencumbumu, memcuri sedikit cinta dan perhatianmu

UNTUK APA

Hari sudah malam rupanya

Sesaat yang lalu tawa tangis, canda ratab, sorak isak, puji maki, terdengar riuh saling berganti

Tiba-tiba berganti  kesunyian semu

Sesaat detak kesadaran seolah berhenti, ketika sederet aksara teruntai bak cerita anak manusia melintas begitu saja di depan mata yang semakin sayu menatap rutinitas pergantian waktu tak lagi berbinar mengharap esok pagi

Namun nuraninya tergelitik walaupun nalarnya seakan tak berjalan lagi

Merayap coba meraba makna, bak orang bijak menelaah kisah, coba memetik makna bait syair cerita anak manusia yang di terawangnya

Tiba-tiba logikanya berhenti, kembali jiwa lelahnya dibenamkan dalam-dalam dibiaranya dijerat erat helai-helai sutra kerapuhan, sesaat saat logikanya berkata “untuk apa”