Total Tayangan Halaman
Senin, 13 Desember 2010
Kebahagiaan
Saat ini kita di paksa membutuhkan apa yang tidak kita butuhkan.
Minum kopi seharusnya cukup murah tapi kita harus membayar mahal denga embel2 cita rasa bahkan sekedar gaya.
Pake celana membayar rupiah dengan jumlah tak sedikit dengan iming2 kenyamanan, gaya, trendi dan harga diri.
naik mobil seharusnya cukup yang aman dan nyaman tetapi harus membeli yang mewah dengan alasan kenyamanan, kebanggaan dan lambang status sosial.
Untuk mendapatkan kebahagiaan itu semua kita harus mengambil kebahagiaan orang lain dan meninggalkan kebahagiaan yang telah dianugerahkan Sang Pencipta kepada kita. kita banyak membuang waktu untuk itu semua pulang larut selanjutnya melarutkan diri dalam kehidupan malam dengan alasan untuk membuang penat dan tekanan pekerjaan
Kata temanku lagi:
Ironisnya saat ini hal itulah yg sudah menjadi kebenaran
Hmmmmmmm..........
Aku terdiam sesaat merenung, benar atau tidak kata2 temanku itu
Karena waktukupun tak banyak memikirkan hal itu karena aku harus segera melarutkan diri untuk mendapatkan kebahagiaanku sendiri yang direnggut orang lain
walupun untuk mendapatkannya aku harus merenggut kebahagiaan orang itu
Minggu, 17 Oktober 2010
berpihak
Jumat, 24 September 2010
Arrrgggghhhhhh
Tak mau mengakui menghargai mengerti
Setiap hal, individu itu berbeda
Lupakan yang lalu toh tak menjadi apa-apa, akupun demikian
Hadapi realita di ujung hidung di pucuk telunjuk
Atau sekali lagi waktu menggilas habis kembali tak menjadi apa apa
Gunakan nalar, lisan secukupnya gembalakan imajinasi kemana pergi
Selebihnya biarkan jaringan kuat otot merengkuh waktu yang belum tahu dimana ujungnya
Dan biarkan air terus mengalir, angin berhembus daun daun terus tumbuh
Selasa, 29 Juni 2010
Doaku semoga jadi bekalmu
Suara yg kelak juga akan warnai sudut-sudut kotor bumi ini
Saat mata ini menatap muka suci itu, senyummu merekah tanpa beban
Seketika berjuta doa, harap dan asa melintas sperti ingin tertumpah
"nak jika kau besar nanti, ku boleh berharap kau jadi apa, tapi ku tak berhak memaksa kau jadi apa
Setidaknya bermanfaatlah untuk dirimu sendiri, karena kau akan bermnfaat tuk semua juga tanah air tercinta ini"
Kelak kau kan hidup di masa keremangan
Dimana tak ada lagi benar salah
Benar tak selalu benar, salah tak selalu salah
Salah ketika sedikit orang mengatakan benar
Benar ketika sedikit orang mengatakan salah
Benar atau salah hanyalah sederet kata diujung lidah tanpa makna
Benar atau salah hanyalah selarik aksara diujung pena tak mengena
Namun jangan pernah ragu melangkah,
Karena kau dibekali hati dan nurani
Gunakan meraba saat senja tiba
Jadikan pelita ketika kegelapan menerpa
Semoga Sang Pencipta selalu bersamamu dan menuntunmu
Amin
Sabtu, 22 Mei 2010
jatuh tumbuh
Selasa, 27 April 2010
marah
Minggu, 14 Maret 2010
Kisah
892010
Mengikuti kedua kisahmu membuatku mual
Banyak hal diluar nalar dan penalaran
Kupikir perbedaan jender membuat beda cara berpikir kita
Bagi kami hidup harus dihitung, kalo begini jadi begitu, kalo begitu jadi begini, kalo begitu apa untungnya kalo begini apa ruginya
Tetapi bagi kalian hidup tak ubahnya permainan hati, hanya perlu sedikit tahu esensi selebihnya perasaan lebih mewarnai
Hehhhhhhhhhhhhh……
Aku semakin tak mengerti
Vonis Kisahmu si penyambut ajal
Vonis Kisahmu seakan si tak berdaya, karena karya kasar penalaran kami
Namun semakin ku mual membuatku tersadar akan kebodohanku, ketidak mengertianku, kesok tahuanku
Satu hisap dua hisap tiga hisap, satu batang dua batang tiga batang, sambil sesekali seteguk air berwarna coklat bening karena seduhan dahun yang di petik oleh wanita-wanita berkeringat yang tadi pagi sarapan dan membawa bekal sebungkus asa, menggelontor tenggorokan yang di lapisi lendir karena menghisap daun yang terbakar yang waktu lalu di petik oleh laki-laki tua bermandi peluh disiram terik matahaari
Otak bekerja semakin keras siring hati yang lamabat laun melayu menyadari kesombongan diri
Ternyata kau manusia, kamu manusia, aku manusia yang lebih sering salah bersandar dan menyandarkan setiap masalah karena terlalu asik dengan nalar yang kita lupakan siapa yang telah berikan
Hanya saja mungkin karena sok tahuku aku menilai kau dan kamu terlalu asik dengan sedikit penalaranmu
Sementara aku di sini Cuma berdiri mengawasi yang lebih sering lengah daripada melihat kalian, karena memang bukan itu karena sok tahuku kuanggap bukan garisku
Semakin mualku belum akan berakhir, semakin mualku semakin kunikmati untuk lebih menyadarkan diri
Terkecuali jerat yang ku jeratkan sendiri membuatku tak bisa beranjak ketika mata terbuka hati terbuka nalar bekerja ketika saksikansegumpal batu besar datang bergulung membara merah dengan ekor api menjilat panjang siap remukkan tubuh ini dan datang berkali kali samapi sisakan kotoran kecil yang sebabkan bau anyir seluruh muka bumi ini
Semoga jerat itu segera ku lebur luruh hanyut oleh air suci di sinari surya mentari pagiKERINDUANKU
Aku merindukanmu, ketika rajutan benang-benang nylon warna warni terajut mengalung akar-akar pohon dan batu-batu cacat digerus asam anugerah Tuhan
Aku merindukanmu, ketika gemerincing logam melengkung beradu menyatukan sperangkat tautan nyawa
Aku merindukanmu, ketika seutas tali menjuntai menyuruak kedalam ruang dan waktu gulita menyimpan berjuta misteri
Aku merindukanmu, ketika jantung berdebar mengusir gelisah ketika seonggok tubuh ringkih menantang ajal
Aku merindukanmu, ketika depa demi depa tubuh merangsek menyambut senja menuju kegalapan abadi
Aku merindukanmu, ketika kepasrahan bergantung menciutkan nyali membungkam sumpah serapah yang sering tumpah dari mulut congkak yang lupa akan arti conkak
Aku merindukanmu, ketika rasa syukur terbersit sedikit, terjepit keakuan lupa akan perjalanan kecil menebar pukat menjaring mimpi kecil
Aku merindukanmu, ketika peluh mengalir membasahi raga terseka gelap terhapus binar-binar cahaya diatas kepala memberkas menimpa batu-batu besar kecil yang seakan berlomba menari, bersolek, melenggok coba pukau jadi saksi keagungan sistematis kuasa Ilahi tersimpan dalam kegelapan malu-malu takut dijamah tangan-tangan pendosa yang rakus walaupun tubuh telah terisi penuh batu-batu dan kotoran yang najis bersemayam, karena enggan berbagi bahagia dengan batu-batu dan kotoran, atau karena tubuh itu tidak pernah berbahagia
Aku merindukanmu, karena aku masih bermimpi cair bersama bulir-bulir air yang mengukir setiap relief yang ingin bercerita bertukar cinta dengan butir-butir air yang begitu mencintai insan-insan dahaga yang melupakan makna dahaga
Aku begitu merindukanmu, karena aku masih merindumu ingin berbagi cerita dengan sesame bersama orang-orang yang juga merindukanmu
Aku merindukanmu, saat kau berbisik lirih kau risau terusik dengan hadirku dan aku berkata, tetaplah lelap dengan pekatmu, aku hanya ingin sedikit mencumbumu, memcuri sedikit cinta dan perhatianmu
UNTUK APA
Hari sudah malam rupanya
Sesaat yang lalu tawa tangis, canda ratab, sorak isak, puji maki, terdengar riuh saling berganti
Tiba-tiba berganti kesunyian semu
Sesaat detak kesadaran seolah berhenti, ketika sederet aksara teruntai bak cerita anak manusia melintas begitu saja di depan mata yang semakin sayu menatap rutinitas pergantian waktu tak lagi berbinar mengharap esok pagi
Namun nuraninya tergelitik walaupun nalarnya seakan tak berjalan lagi
Merayap coba meraba makna, bak orang bijak menelaah kisah, coba memetik makna bait syair cerita anak manusia yang di terawangnya
Tiba-tiba logikanya berhenti, kembali jiwa lelahnya dibenamkan dalam-dalam dibiaranya dijerat erat helai-helai sutra kerapuhan, sesaat saat logikanya berkata “untuk apa”
Sabtu, 09 Januari 2010
Entah
Ah...waktu trs berjalan rupanya. Namun tak banyak beranjak disini, kmbali mimpi2 merengkuh hari-hari, seakan enggan melepas jiwa rapuh untuk bangkit dan segera berlari.
Ah...waktu tak mau berhenti rupanya. Berjalan pasti meninggalkan jiwa2 rapuh yg didekap mimpi terjepit kesendirian digilas arah yg tak pasti.
Ah... sang waktu tak mau berhenti rupanya. Bahkan tekad-tekad tegar terpaksa harus terlantar
Ah ah ah aaawwwwh