Ketika senja tiba
langit kemerahan di ufuk barat
ketika itu sang rembulan dengan ragu menghiasi lagit sore itu
Dan ketika mentari semakin pergi
Rembulan gundah menengadah
Sinar indahnya membias di sapu lampu-lampu malam
Tak seperti rembulan di dusun tempatku
Sang rembulan begitu merekah, menebar asa menenangkan jiwa dan raga yang seharian bekerja
Tapi di kota ini, rembulan tak bisa apa2
Dan ketika malam semakin larut
Bukan kesunyian, bukan pula suara jangkrik atau katak yang merangkai irama
Bukan pula indahnya bulan di temani gemintang
Terdengar lirih tapi begitu nyata menghiasi malam
Ratapan resah,gelisah dan gundah
Dari tubuh-tubuh lelah
Lelah memikul mimpi, obsesisi tak lain nafsu yang membuat lupa
Lupa akan hakikat hidup, mewarnai hidup, bahwa hidup untuk mati
Bahwa mati untuk menepati janji
Begitu juga sang rembulan sore tadi
Sinarnya cerminkan lelah, lelah melawn zaman
Lelah melawan lompu2 kota yang menebar uforia
Menindih tubuh2 rapuh, yang segera hayut, larut terbawa jaman
Hidup ini untuk mati teman
Jangan terlalu larut, karena petang pasti akan datang
Aku pengingatmu, begitu juga jangan lupa ingatkan aku kalo petang kan segera datang