Total Tayangan Halaman

Rabu, 24 September 2008

Pantai Siung




Pantai yang terletek di sisi selatan sebelah timur kabupaten Gunungkidul ini memang sangat layak untuk dikunjungi. Pantai ini pernah di gunakan untuk acara Asian Climbing Gathering, setelah acara ini gagal diadakan di fietnam karena Tzunami 2006 lalu(kalo ga salah Lho). Memang untuk masstourism fasilitasnya belum begitu komplit.
Setidaknya tersedia lapangan parkir luas, penginapan berupa rumah panggung (modelnya los-losan), MCK, Warung dengan berbagai masakan laut dan mushola. Tetapi buat yang doyan petualangan, alias special interest tourism fasilitasnya sangat berlimpah. Pantai yang indah, enak dinikmati baik pagi dan sore hari (Siang panas Brooo). Siangnya kita bisa berpuas2 menikmati suguhan alam.
Sisi sebelah barat pantai merupakan jajaran batuan yang sangat menantang untuk di panjat. Tentunyan agak berbeda dengan jenis batuan andesit, karena yang terdapat disini adalah batuan kapur. Berbagai vareasi jalur dapat di pilih, mulai artificial/aid climbing sampai sport climbing.
bagi yang pengen nonton aja. Ada smacam lapangan kecil beserta sebuah gubuk dengan pandangan lepas ke lautan. Disini nih paling enak menymbut senja. Matahari yang kembali ke peraduan nampak begitu eksotis di ufuk barat.
Bagi yang kurang begitu bisa climbing bisa mencoba menelusuri gua (caving). Tak jauh dari pantai ssiung terdapat 2 buah gua yang sudah disurfei dan sangat layak untuk di kunjungi, bahkan lebih dari layak karena dekorasi gua tersebut sangat luar biasa. Bahkan kita bisa bingung untuk melangkah karena hampir setiap tempat di tumbuhi oranamen gua.
sore atau malamnya kita bisa berpusa2 bakar ikan yang bisa di pesan di nelayan setempat. tempat yang begitu indah ini sangat layak untuk di pake kumpul orang banyak. Tapi blm ada listrik loh. Tapi kalo mo maksa, ada jg genset untuk di sewa,
Berdasar potensi inilah, kami beberapa penelusur gua dengan modal asa berusaha membantu sodara2 kami di tempat itu. Memberi sedikit bantuan keterampilan untuk pengelolaan tempat tersebut, agar nantinya tidak sekedar jadi penonton bila tempat ini berkembang. Seperti beberapa tempat wisata laen, yang di kelola baik oleh pemerintah maupun swasta yang kurrang berhasil. Biasanya babarap hak masyarakat setempat terenggut.
Bahkan sudah ada gagasan tempat ini akan di swakelola oleh pemerintahan desa, Menjadi Comunity Base Tourism. Namun sayang karena cekaknya dengkul kami, kami belum bisa menindak lanjuti untuk pelatihan berikut.
salam.........
Maaf sesi tebing ma pantainya ga komplit, cuma sambi lalu

Sabtu, 06 September 2008

Mari Belajar menghargai Alam

Lingkungan gua merupakan lingkungan yang rentan terhadap gangguan.
Buat temen2 yang senang kegiatan dialam bebas tentunya sangat memahami kondisi ini.
Dari mulai terbentuknya sampai berkembang menjadi lorong2 yang eksotis
Pembentukannya memakan waktu yg sangat lama, sampai jutaan tahun. Hingga binatang penghuni di dalamnyapun, karena minimnya sinar matahari dan nutrisi mengalami banyak adaptasi

Terutama untuk gua2 di kawasan gamping, bentang lahan ini pada mulanya terbentuk di bawah permukaan laut berupa terumbu karang yang tersusun dari jasad2 hidup. Karena kerak bumi ini sangat dinamis hingga bisa mengalami pemelaran terjadi penggelaman terumbu, sehingga mencapai ketebalan tertentu. Nah karena proses geologi yang dahsyat pula, berupa pergeseran lempeng2 benua, beberapa tempat terangkat kepermukaan. Bisa di bayangkan, menurut info, sebagian area Pegunungan Jaya Wijaya. Sebagian tersusun dari batuan kapur atau karbonat yang tadinya terbentuk di bawah permukaan laut. Itu bisa di buktikan dengan ditemukannya fosil2 terumbu di area itu. Luar biasa, tempat setinggi itu awalnya terbentuk di bawah permukaan laut. Ada yang mencengankan lagi, beberapa saat yang lalu ada rekan dari arkeologi yang mengungkapkan bahwa, daratan kapur Gunungkidul pernah timbul dan tenggelam lebih dari sekali. Walaupun belum di publish karena memang perlu pembuktian yang lebih kuat, namun cerita itu akan membuat takjub bagi para pemerhati bentang lahan semacam itu

Nah sekarang sering terdengar istilah karst
Kalo asal usulnya istilah ini bisa di cari sendiri yaaaaaaa...
Jaman internet gitu loooooooh
Karst adalah bentang lahan  yang mengalami pelarutan(dalam kasus ini gamping), pelarutan ini di sebut karstifikasi. Batu gamping memang secara fisik kuat, tetapi secara kimia lemah dan mudah terlarutkan oleh asam yang terkandung dalam air hujan. Ciri2 kawsan karst diantaranya terbentuknya gua2 bawah tanah dan betukan psitif dipermukaan yang spesifik seperti bentuk kerucut terbalik seperti di daerah karst di Gunungkidul, bentukan negatif berupa lembah2. Fenomena di permukaan yang begitu memukau ini sungguh luar biasa


Namun tak kalah menariknya bagi para petualang adalah bentukan lorong dibawah permukaan tanah yang disebut gua, baik yang vertikal dan horisontal. Di jawa gua vertikal lebih dikenal dengan nama luweng. Sedangkan gua horisontal ya gua saja. Gua baik horisontal maupun vertikal sama manantang dan menariknya. Begitu banyak potensi didalamnya yang sangat layak untuk dilihat.
 potensi2 itu diantaranya bentukan lorong, sungai bawah tanah, oranamen (speleothem), biota dll.


Senin, 28 Juli 2008

L Jaran




Ini hanyalah sebagian kecil keindahan isi perut bumi Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Tanah yg dipermukaanya kelihatan tandus dan kering saat kemarau, menyimpan sistem aliran sungai bawah tanah dan keindahan ornamen gua yang luar biasa. Konon data terakhir, panjang gua yang sudah terpetakan baru 23km. Dan masih banyak lagi lorong yg belum terpetakan.Namun sangat disayangkan pada beberapa tempat pengotoran ornamen. Banyak dijumpai bekas sepatu bot dan telapak tangan. Rasa ketertarikan yang berlebihan dan kurangnya kesadaran menyebabkan vandalisme yang terkadang tidak disadari. Mengingat lokasi yang sulit diakses orang awam serta memerlukan peralatan dan teknik khusus, memberi gambaran bahwa para belakunya adalah penelusur gua. Hemm..orang2 yang seharusnya menjaga dan melindungi tempat ini.

Beberapa waktu lalu kami berkesempatan mengantar peneliti asal Australia, survei lokasi pengambilan sampel batuan, untuk mengetahui umur batuan gamping di tempat itu. Rencananya pengambilan sample akan di lakukan bulan November. Disamping memerlukan perijinan yang ketat mempertimbangkan juga agar pelaksanaanya sebelum memasuki musim penghujan. Luasnya area tangkapan air akan menyebabkan aliran air mengarah ke mulut luweng jaran dan menyebabkan banjir bandang.
Perlu diketahui juga foto2 ini dihasilkan dari kamera pocket canon. Jadibuat temen2 yg suka hobi kegiatan outdor dan punya kamera poket, mari bereksperimen terus.......

Jumat, 11 Juli 2008

With Dscvry channel




Dari Baparda DIY entah lewat personal atau instansi kami mendapat job untuk mendanpingi salah satu stasiun pembuat dokumenter. Topik yang mereka bahas tentang mistis dan legenda. Kebetulan objeknya gua. Lokasi yang diambil Gua langse, Cerme, Dan semuluh. Walupun beberapa kali terjadi miss karena tidak ada konfirmasi yang jelas sebelumnya nampaknya mereka merasa cukup mendapatkan gambar, terkait dengan lokasi. Sayang karena ketatnya pengambilan gambar aku ga bisa ngambil foto terlalu banyak. Mereka pengen dapat gambar yang bener-bener lelap dan Voice yang so quiet terutama di dalam gua. Namun aku jd malu sendiri saat ini.
1. Waktu itu mereka susah untuk di arahkan menggunakan alat pengaman terutama helm waktu masuk Gua Cerme. Hanya seorang kameramen yg dengan sadar dan sukarela memakainya.
2. Kedua mereka menggunakan obor saat memasuki gua cerme, disarankan untuk tidak memakai karena mengganggu kondisi udara, menimbulkan jelaga dan ceceran minyak larut dalam air yang pada pintu keluarnya dimanfaatkan warga untuk dikonsumsi. sayang pemandu lokal mengatakan tidak apa2. Benar saja saat kembali, aroma minyak tanah dan bau asap sisa pembakaran memenuhi lorong gua karena pada beberapa tempat melakukan pengambilan gambar cukup lama. Terlebih lagi kebanyakan dr mereka menggunakan peralatan modern seperti headlamp. Dan kemungkinan terekan dalam scene. tentunya jad agak lucu.
3. Waktu menuruni tebing menuju gua Langse bisa dikatakan mereka Free climbing walau sudah ada tangga pd tebing kurang lebih setinggi 40m.
sekali lg mereka susah untuk diberi pengertian.
Sebagai yg mendampingi tentunya itu sebuah kesalahan besar yg seharusnya ga boleh di tolelir. But.......................................

Kamis, 03 Juli 2008

Global warming

Kalao yang kurang tertarik mungkin bisa sekedar jadi wacana.
Tetapi kalo merasa tinggal di permukaan planet bumi ini, sangat penting buat di baca..!!!!!!

Buku GLOBAL WARMING
adalah buku NON-KOMERSIAL.
Buku ini dibuat untuk menginformasikan kepada masyarakat kita
tentang seriusnya ancaman pemanasan global
agar kita semua SEGERA BERTINDAK
UNTUK MENYELAMATKAN BUMI INI
dan menghindari banyak bencana dalam skala besar.
Ubah gaya hidup Anda dan Tunjukkan bahwa Anda peduli!
Buku ini dapat Download Gratis di:

http://www.kontaktu han.org/pemanasa n-global. zip




Jumat, 13 Juni 2008

Forum karst gunung sewu

http://tech.groups.yahoo.com/group/karst_forum/

Spirit

Abis nonton TV tapi bukan sinetron pastinya, Ada cerita kecil berdurasi 60 menit yang mengusik pikiran. Tapi maaf bila ada yang kuran atau lebih. Ceritanya………..

 

Awal revolusi kuba digawangi 3 orang legendaris radikal ( dua bersaudara Raul dan Fidel Castro dan Ernesto “che” Guevara). Diawali masing-masing membawahai 5, 7 dan 11 gerilyawan revolusioner, mampu menjadi kekuatan besar yang akhirnya  mengacak-acak kekuatan imperialisme kotor, korup dan keji. Mereka terlahir di tempat terpencil. Walaupun bukan tergolong orang miskin namun lingkungan yang begitu dekat dengan orang miskin membentuk kepekaan, watak dan kepribadian mereka. Mereka tak memperdulikan fasilitas, posisi dan jabatan, yang sebenarnya dapat saja dengan mudah mereka dapatkan. Ketiga hal busuk itu begitu jauh dari benak mereka.

 

Entahlah jika orang-orang ini lahir kembali di tanah air tercinta ini. Tentu akan menyusahkan banyak orang. Indonesia sendiri pernah mencatat sejarah Sudirman, Hatta dll. Bagaimana mantan wapres RI pertama ini harus menggadaikan perhiasan istrinya untuk membayar tagihan listrik sambil menunggu uang pensiun. Dan kabarnya akhirnya bersimpangan dengan RI 1 I. Bagaimana pula jenderal pertama Indonesia “Sudirman” pernah berkata, tak ingin mati di tempat tidur. Dia lebih suka mati di medan pertempuran walaupun di gerogoti paru-paru akut dan harus di tandu dalam meminpin pasukan.

Tapi justru mencari buku atau dokumenter biographi orang-orang besar Indonesia, lebih susah di tanah air tercinta ini (ato aku yang gak gaul ya.??) ha…ha…ha….

 

Sebenarnya diluar sisi heroisme yang memang nggak bisa lepas dari figure mereka yang kebanyakan lahir di lapis masyarakakat bawah, banyak cerita humanis dan jiwa-jiwa yang bersih dari sekedar urusan kebendaan dan duniawi. Bgaimana mereka mampu menjaga semangat dan idealisme yang mampu memberi kekuatan luar biasa di tengah halangan dan terpaan ancama fisik yang kadang diluar jangkauan akal manusia.

Kapan kisah-kisah manis ini akan terulang, Who knows….????

Rabu, 11 Juni 2008

Nilai Penting Dokumentasi




Suatu saat saya dihubungi teman, disuruh dokumentasi foto. Sebenarnya yang diminta dia sendiri, namun karena berhalangan dengan acara lain, baliaunya minta tolong saya untuk menggantikannya. Ceritanya, sebuah perusaaan asing besar di Papua mengadakan pelatihan managemen untuk stafnya, di gawangi oleh sebuah PTS besar di Jogja. Namun saya bingung, sebisa mungkin hasilnya harus langsung di bawa. Masalahnya itu hari terkhir mereka dan harus segara kembali. Mau pake SLR analog masih ragu hasilnya dan yang pasti memakan waktu untuk bisa menjadi gambar. Mau pake digital SLR ga punya. Sampai hari H aku datang ke hotel tempat acara. Dengan berbekal sebuah kamera digital pocket pinjaman dari teman kuberanikan diri untuk maju. Sesampai dilokasi aku langsung bilang “pak saya nggak bisa membawa alat yang memadahi” maklum dalam benakku, ini kegiatan yang diadakan orang2 penting. Namun tahu apa jawabya? “ah…alat ga terlalu penting, yang terpenting ada hasilnya, dan yang lebih penting lagi fotonya bisa digunakan sebagai bukti dan laporan ke perusahaan. Dan lagi pula kami kan butuh kenangan”. Aku baru sadar oh..iya juga ya..!

Sabtu, 07 Juni 2008

Penetapan Kawasan Ekokarst

Mungkin beritanya udah lama tapi patut disimak buat referensi


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 6 Desember mendatang direncanakan akan meresmikan pencanangan wilayah geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan eko-karst di pendopo Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.


Jumat, 03 Desember 2004 - 13:42 WIB
Siaran Pers DESDM, Nomor 18/HUMAS DESDM/2004
Wilayah Geologi Gunung Sewu dan Gombong Selatan Dicanangkan Sebagai Kawasan Eko-Karst
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 6 Desember mendatang direncanakan akan meresmikan pencanangan wilayah geologi Gunungsewu dan Gombong Selatan sebagai kawasan eko-karst di pendopo Kabupaten Gunungkidul, Wonosari, Yogyakarta.

Penetapan wilayah eko-karst tersebut berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor: 961.K/40/MEM/2003 tanggal 23 Juli 2003 dan Nomor: 1659 K/40/MEM/2004 tanggal 1 Desember 2004. Pada kesempatan tersebut akan dilakukan kunjungan lapangan ke Gua Bribin, Desa Bribin, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul.

Maksud dan tujuan utama dari acara tersebut adalah memberi apresiasi terhadap lingkungan fisik dan biofisik kawasan karst di daerah Gunungsewu (yang mencakup wilayah Kabupaten Gunungkidul, Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten Pacitan) dan Gombong Selatan (Kabupaten Kebumen), yang dinilai memiliki unsur strategis tinggi. Unsur yang mencakup aspek ilmiah, ekonomi, kemanusiaan, dan konservasi itu merupakan dasar dan pilar utama bagi kegiatan pengelolaan kawasan yang berbasis pada pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. Sasaran akhirnya, tentu saja adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat yang telah menghuni kawasan itu secara turun temurun, yang pada umumnya merupakan komunitas marginal.

Kawasan karst di Gunungsewu dan Gombong Selatan memiliki aneka fungsi yang berkaitan erat dengan situs pengembangan iptek, sumberdaya alam hayati dan nirhayati yang memberi nilai ekonomi jangka pendek dan jangka panjang, tatanan sosio-budaya masyarakat setempat yang khas, dan konservasi sumberdaya alam.
Nilai ekonomi kawasan karst antara lain dapat digali dari aspek sumberdaya mineral (pertambangan), pengelolaan air, pariwisata, kehutanan, pertanian, perikanan, sumberdaya ekonomi walet dan sebagainya.

Kegiatan eksploitasi nilai ekonomi di kedua kawasan karst itu harus dapat diselaraskan dengan upaya pelestarian nilai-nilai strategis yang dimiliknya. Dengan demikian, landasan dan hakekat pembangunan berkelanjutan dapat diterapkan di kawasan karst yang di Indonesia terdapat hampir di semua pulau, dari Aceh hingga Irian Jaya.

Isu kekeringan yang melanda kawasan karst di daerah Gunungsewu hampir setiap tahun merupakan keprihatinan bersama, sementara dari aspek hidrogeologi kawasan kars merupakan lumbung air yang tersedia sepanjang tahun. Sungai bawahtanah di Gua Bribin, Kabupaten Gunungkidul, merupakan usaha manusia memanfaatkan sumberdaya air karst yang diberikan oleh alam. Sungai bawahtanah Bribin yang debitnya sekitar 750 liter/detik akan dimanfaatkan sekitar 80-100 liter/detik untuk mencukupi kebutuhan air bersih bagi 79.000 jiwa atau 6.000 KK penduduk di sekitar gua. Teknologi yang digunakan adalah menyedot air yang berada sekitar 104 m di bawah permukaan tanah setempat dengan menggunakan pompa listrik. Sumber tenaga listrik diperoleh dari energi mikrohidro yang dibangun di dalam gua, berupa bendung setinggi 15 m, yang akan menciptakan beda tinggi permukaan sungai bawahtanah. Energi potensialnya akan menggerakkan generator, sehingga dapat dihasilkan energi listrik sebesar 250-300 KW yang cukup untuk menggerakkan pompa. Pengambilan jumlah air yang jauh di bawah debit adalah untuk melestarikan sumberdaya air itu sendiri, karena dimungkinkan di bagian hilirnya, sebelum ke luar sebagai mata air Baron, terdapat beberapa mata air yang manfaatnya sangat penting bagi masyarakat setempat.

Sebagai pemodelan pengelolaan kawasan karst secara terpadu, holistik, berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup, apa yang sudah dilakukan di daerah Gunungsewu dapat dicontoh oleh daerah karst lainnya di Indonesia.

Isu lain yang akan diangkat dengan adanya pencanangan di atas adalah hal-hal lainnya yang berkaitan dengan kehutanan, lingkungan hidup, dan pariwisata. Kehutanan di kawasan karst diproyeksikan tidak hanya dari nilai ekonominya saja, tetapi juga pada aspek yang lebih penting yaitu fungsi orohidrologi (tanaman yang berfungsi melestarikan air). Sedang dari sisi lingkungan hidup adalah bagaimana mengemas semua kegiatan eksploitasi nilai ekonomi tidak memberi dampak negatif terhadap kelestarian lingkungan hayati dan nirhayati yang daya-dukungnya sangat rendah, rentan terhadap perubahan sekecil apapun. Dari sisi pariwisata perlu dikemas kegiatan rekreasi yang sifatnya tidak merusak lingkungan, seperti misalnya ekowisata.


Sumber : Biro Hukum Dept. ESDM

link: http://www.dgtl.esdm.go.id/modules

Belajar Gua On line

http://subterra.web.id/

Jumat, 06 Juni 2008

Survei Terestrial




Kondisi geologis dan geografis dipermukaan tanah yang kering di sebagian kawasan karst meninggalkan petaka bagi penghuninya. Bencana kekeringan mengancam setiap musim kemarau tiba. Namun siapa tahu di bawah permukaan tanahnya menyimpan aliran sungai bawah tanah yang mengalir deras. Disinilah peran ilmu pengetahuan dituntut untuk mampu membantu permasalahan umat. Penelusur gua dan ahli-ahli karst bisa mengambil peran dalam kondisi ini, karena pengalaman sebelumnya geolistrik lebih sering tak berdaya dan memboroskan biaya

Kamis, 05 Juni 2008

Aku


Kabupaten bulukumba

Ya inilah aku. Punya kepala dengan isi yang tak seberapa. berisi impian, khayalan, dan idealisme yang mungkin bagi sebagian orang hal yang tak perlu. hidup bagiku bagaimana bersukur dan bermanfaat bagi orang lain. berjuang dan terus bejuang

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul

http://www.gunungkidulkab.go.id

Selasa, 03 Juni 2008

Survei Potensi

Start:     Jun 4, '08 06:00a
Location:     Komplek Siung
Pengembangan Wisata Berbasis Msyarakat

Kontroversi Kawasan Karst

Kontroversi pemanfaatan potensi alam di kawasan karst mungkin hal yang sudah jamak. Ini dapat di pahami, karena kawasan ini sangat rentan mengalami degradasi. Kekayaan ilmiah dan hayati selalu bertolak belakang dengan ekploitasi di bentang lahan yang banyak orang mengatakan eksotis. sampai saat ini belum ada formula yang mujarab untuk mengatasi permasalahan ini. Konflik berkepanjangan berbagai kepentingan baik berbagai instansi maupun para ahli mewarnai setiap pembahasan oleh forum-forum yang pernah ada. Namun semua itu menjadi sia-sia karena sering melupakan apa dan siapa kawasan karst itu sendiri. Kadang dalam setiap perbincangan banyak ahli yang melupakan bahwa ada orang-orang yang tinggal di tempat itu dan perlu dipikirkan. Namun kadang ada pula yang memanfatkan keberadaan penduduk sebagai legalitas pendapatnya.

Ah bikin bikin pusing aja... Namun bagi orang-orang yang peduli mau tak mau harus ambil pusing. Penambangan gamping dan fosfat semakin mengancam. Baru-baru ini Gua tlogo mulai dirambah para penambang fosfat. sebagian penduduk setempat mulai sadar dengan kondisi ini. Pengalaman Gua lowo yang rusak dan tidak menghasilkan manfaat seberapa bagi penduduk setempat membuat mereka tersadar. Namun para penambang tak kalah cerdik dengan lobi-lobi ala orang mapan berdasi di kota besar sana. Undangan makan ditujukan kepada personal pemilik tanah. Padahal sampai saat ini tidak ada ketegasan tentang pengelolaan dan kepimilikan sebuah gua, walaupun peraturan sudah ada. Belum lagi cerita lama keangkuhan orang-orang "beruang" yang melakukan penambangan gamping di komplek bedoyo da tempata lain yang merupakan reservoar air untuk gua-gua disekitarnya, dan bukan tidak mungkin merupakan daerah tangkapan air yang menyuplai ke sungai bawah tanah bribin yang sedang diupayakan untuk dimanfaatkan untuk menghidupi ribuan orang yang mengalami kesulitan air bersih di Gunungkidul tiap musim kemarau tiba.

Jadi pertanyaannya tidak adakah pemanfaatan yang lestari untuk kawasan ini. Yang menguntungkan semua pihak bukan hanya sebagian orang saja. Atau ketamakan dan kerakusan harus mengangkangi bentang lahan eksotis ini. Ataukah lagi harus menunggu perdebatan panjang yang entah kapan berakhir dan entah apa ada aksi riil setelah rembug dan debat itu usai. Yang pasti penduduk setempat akan menanggapi setiap tawaran berbau ekonomi karena mereka memang selayaknya mendapat manfaat ekonomi dari tempat dimana mereka lahir dan mengais rejeki. Tinggal siapa yang maju terlebih dahulu orang rakus atau orang yang berpikir panjan bagaimana kehidupan kedepan. Tapi biasanya orang rakus lebih optimis dan berani untuk maju.

Ini hanyalah keluh kesah dilandasi seidkit rasa tak berdaya. Dan maafkan pula jika kekurangthuan serta keterbatasan wawasan saya membuat tulisan ini muncul Jangan sampai ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Bila ada yang ingin mengklarifikasi atau berbagi pengetahuan itu memang yang ditunggu-tunggu.

Tulisan Komplitnya Nyusul ya....ha...ha...fotonya mungkin nanti juga ada..he..he..he..tapi gak janji kapan. hi..hi..hi..

Selasa, 29 April 2008

Hancala Trip

Start:     May 9, '08 6:00p
End:     May 11, '08
Location:     Jomblang
Aplikasi materi vertical

Hancala trip

Start:     May 9, '08 6:00p
End:     May 11, '08
Location:     Jomblang
Latihan aplikasi materi vertical

Kamis, 24 April 2008

Sosialisasi wisata

Start:     Apr 26, '08 6:00p
Location:     Komplek gua Gremeng
Konsep pengembangan ekowisata dikawasan karst
Eh mundur minggu depan. moga jalan, amien.....

Sosialisasi wisata

Start:     Apr 26, '08 6:00p
Location:     Komplek Gremeng
Konsep pengembangan ekowisata dikawasankars

Mereka masih berjuang

Terkadang kita larut dan tenggelam dengan kehidupan kita sendiri, asik dengan keseharian kita yang entah  terlena oleh kenyamanan, fasilitas atau bahkan rutinitas dan permasalahan-permasalahan bagi yang kurang beruntung dalam keduniawian. Bagi yang asik berfikir kadang hanyut dalam pemikiran-pemikiran yang kadang relefansinya tidak jelas akan dikemanakan. Cobalah sesaat kita cooling down dan coba membuka jendela hati untuk bisa melihat apa yang ada di sekitar kita. Realitas kehidupan yang sebelumnya tidak pernah terbersit di benak kita. Melihat sejenak apa yang saudara-saudara kita rasakan alami dan perbuat.

Begitu juga aku. Aku terhenyak sesaat melihat realitas kehidupan di kawasan karst Gunungkidul. Daerah yang selama ini di koran-koran, majalah, radio dan televisi saat musim kemarau menjadi sumber berita. Daerah yang sebagian wilayahnya mengalami kekurangan air bersih ketika musim penghujan tidak lagi mencurahkan air berkahnya ke bumi. Darah yang berbatu gamping yang entah terkena kutukan atau mendapat anugerah karena kondisi alamnya (yang belum diekplorasi secara mendalam).

Ternyata realitas berkata lain, ketika sepenggal perjalanku berlalu di dusun Klepu, desa Bejaten, kecamatan Panggang. Salah satu daerah yang kusangka selama ini mendapat cukup berkah saat musim hujan berlangsung, ternyata tak sesuai dugaanku. Dugaan bahwa mereka dapat dengan mudah mendapatkan air yang layak sebagai salah satu kebutuhan mendasar berlangsungnya kehidupan mayapada ini. Tetapi kembali realitas berkata lain, mereka tetap berjalan menuju telaga yang terkadang cukup jauh jaraknya untuk sekedar mencuci pakaian dan mandi sambil sesekali berbaur dengan hewan ternak yang tak juga ketinggalan ingin di bersihkan oleh pemiliknya. Sedang untuk kebutuhan konsumsi mereka memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam bak-bak penanpungan yang mereka buat di rumah masing-masing. Dan kenyataan kembali berkata lain, mungkin ini berita yang ironis bahwa pipa air milik pemerintah yang selama ini telah sedikit banyak membantu meringankan beban mereka, terkadang tak meneteskan sitik airpun apalagi  kucuran gemercik tirta yang bagaikan kencana di dareah itu karena terjadi kerusakan.

Bagi yang daerahnya terdapat sumur, mereka harus rela secara bersama-sama mandi mencuci dan mengambil air untuk konsumsi karena memang tidak setiap jengkal tanah nya dapat di gali sumur sehingga mengeluarkan air seperti di tempat lain pada umumnya. Dan ini adalah fenomena nyata. Pemandangan sangat jarang di jumpai di kota-kota dimana terkadang penduduknya dengan tanpa rasa membuang-buang air yang bagaikan emas bagi sebagian saudara kita, dengan tidak semestinya.

Seakan tak mau ketinggalan dengan apa yang terjadi di kabupaten Gunungkidul, saat sepenggal perjalananku yang lain, saat yang Kuasa mengijinkan aku untuk menjejakkan kakiku di bumi Sulawesi, ternyata keaadaan tak jauh berbeda. Disuatu tempat di kabupaten Bulukumba dimana bentang lahannyapun merupakan hamparan dataran berbatuan kapur, pemandangan serupa dapat ditemui di tempat itu. Penduduk setempat mencari air dari sumber-sumber yang ada dengan jarak yang terkadang cukup jauh dengan segala cara. Antrian jerigen-jerigen air di sumber menjadi pemandangan yang biasa. Apa lagi di daerah pelosok belum banyak jaringan pipa milik pemerintah. Dan bagi mereka yang mampu, secara suadaya mereka memompa dan membuat jaringan yang mereka kelola sendiri.

Entalah apa yang akan terjadi bila musim penghujan nanti benar-benar berlalu dan enggan menyirami bumi sampai masanya ia harus kembali. Marilah kita sejenak melihat saudara-saudara kita. Tak perlu berbuat apa-apa untuk mereka karena belum tentu merasa seperti apa yang terbersit dalam pikiran kita. Cukup melihat sejenak dalam ruang batin kita agar kita pandai bersukur akan nikmatNya. Entah apa yang mereka rasakan, pikirkan dan perbuat hanya meraka sendiri yang benar-benar tahu. Dan apa bila suatu saat nanti hati kita tergerak melihatnya, marilah bersama-sama ikut memberi sumbangsih pada konsisi semacam ini, membantu mereka sesuai apa yang kita punya dan kita bisa, walaupun mereka menganggap kondisi ini hal yang yang bisa saja karena mereka sudah sangat terbiasa pada kondisi yang kita anggap tidak biasa ini.

Rabu, 23 April 2008

kegelapan


Kadang hidup tak semudah yang diharapkan. Namun bagaimana menghadapi hidup lebih penting dari pada menyesali keadaan. Ya ampun... nggak lagi deh!!!!

Ada yang lain dalam kegelapan, sebagian orang menganggap menakutkan. namun sebagian lain melihat keindahan dan kedamaian.