Total Tayangan Halaman

Kamis, 24 April 2008

Mereka masih berjuang

Terkadang kita larut dan tenggelam dengan kehidupan kita sendiri, asik dengan keseharian kita yang entah  terlena oleh kenyamanan, fasilitas atau bahkan rutinitas dan permasalahan-permasalahan bagi yang kurang beruntung dalam keduniawian. Bagi yang asik berfikir kadang hanyut dalam pemikiran-pemikiran yang kadang relefansinya tidak jelas akan dikemanakan. Cobalah sesaat kita cooling down dan coba membuka jendela hati untuk bisa melihat apa yang ada di sekitar kita. Realitas kehidupan yang sebelumnya tidak pernah terbersit di benak kita. Melihat sejenak apa yang saudara-saudara kita rasakan alami dan perbuat.

Begitu juga aku. Aku terhenyak sesaat melihat realitas kehidupan di kawasan karst Gunungkidul. Daerah yang selama ini di koran-koran, majalah, radio dan televisi saat musim kemarau menjadi sumber berita. Daerah yang sebagian wilayahnya mengalami kekurangan air bersih ketika musim penghujan tidak lagi mencurahkan air berkahnya ke bumi. Darah yang berbatu gamping yang entah terkena kutukan atau mendapat anugerah karena kondisi alamnya (yang belum diekplorasi secara mendalam).

Ternyata realitas berkata lain, ketika sepenggal perjalanku berlalu di dusun Klepu, desa Bejaten, kecamatan Panggang. Salah satu daerah yang kusangka selama ini mendapat cukup berkah saat musim hujan berlangsung, ternyata tak sesuai dugaanku. Dugaan bahwa mereka dapat dengan mudah mendapatkan air yang layak sebagai salah satu kebutuhan mendasar berlangsungnya kehidupan mayapada ini. Tetapi kembali realitas berkata lain, mereka tetap berjalan menuju telaga yang terkadang cukup jauh jaraknya untuk sekedar mencuci pakaian dan mandi sambil sesekali berbaur dengan hewan ternak yang tak juga ketinggalan ingin di bersihkan oleh pemiliknya. Sedang untuk kebutuhan konsumsi mereka memanfaatkan air hujan yang ditampung dalam bak-bak penanpungan yang mereka buat di rumah masing-masing. Dan kenyataan kembali berkata lain, mungkin ini berita yang ironis bahwa pipa air milik pemerintah yang selama ini telah sedikit banyak membantu meringankan beban mereka, terkadang tak meneteskan sitik airpun apalagi  kucuran gemercik tirta yang bagaikan kencana di dareah itu karena terjadi kerusakan.

Bagi yang daerahnya terdapat sumur, mereka harus rela secara bersama-sama mandi mencuci dan mengambil air untuk konsumsi karena memang tidak setiap jengkal tanah nya dapat di gali sumur sehingga mengeluarkan air seperti di tempat lain pada umumnya. Dan ini adalah fenomena nyata. Pemandangan sangat jarang di jumpai di kota-kota dimana terkadang penduduknya dengan tanpa rasa membuang-buang air yang bagaikan emas bagi sebagian saudara kita, dengan tidak semestinya.

Seakan tak mau ketinggalan dengan apa yang terjadi di kabupaten Gunungkidul, saat sepenggal perjalananku yang lain, saat yang Kuasa mengijinkan aku untuk menjejakkan kakiku di bumi Sulawesi, ternyata keaadaan tak jauh berbeda. Disuatu tempat di kabupaten Bulukumba dimana bentang lahannyapun merupakan hamparan dataran berbatuan kapur, pemandangan serupa dapat ditemui di tempat itu. Penduduk setempat mencari air dari sumber-sumber yang ada dengan jarak yang terkadang cukup jauh dengan segala cara. Antrian jerigen-jerigen air di sumber menjadi pemandangan yang biasa. Apa lagi di daerah pelosok belum banyak jaringan pipa milik pemerintah. Dan bagi mereka yang mampu, secara suadaya mereka memompa dan membuat jaringan yang mereka kelola sendiri.

Entalah apa yang akan terjadi bila musim penghujan nanti benar-benar berlalu dan enggan menyirami bumi sampai masanya ia harus kembali. Marilah kita sejenak melihat saudara-saudara kita. Tak perlu berbuat apa-apa untuk mereka karena belum tentu merasa seperti apa yang terbersit dalam pikiran kita. Cukup melihat sejenak dalam ruang batin kita agar kita pandai bersukur akan nikmatNya. Entah apa yang mereka rasakan, pikirkan dan perbuat hanya meraka sendiri yang benar-benar tahu. Dan apa bila suatu saat nanti hati kita tergerak melihatnya, marilah bersama-sama ikut memberi sumbangsih pada konsisi semacam ini, membantu mereka sesuai apa yang kita punya dan kita bisa, walaupun mereka menganggap kondisi ini hal yang yang bisa saja karena mereka sudah sangat terbiasa pada kondisi yang kita anggap tidak biasa ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar