Total Tayangan Halaman

Kamis, 26 Februari 2009

Sang Rembulan

Ketika senja tiba
langit kemerahan di ufuk barat
ketika itu sang rembulan dengan ragu menghiasi lagit sore itu

Dan ketika mentari semakin pergi
Rembulan gundah menengadah
Sinar indahnya membias di sapu lampu-lampu malam

Tak seperti rembulan di dusun tempatku
Sang rembulan begitu merekah, menebar asa menenangkan jiwa dan raga yang seharian bekerja
Tapi di kota ini, rembulan tak bisa apa2

Dan ketika malam semakin larut
Bukan kesunyian, bukan pula suara jangkrik atau katak yang merangkai irama
Bukan pula indahnya bulan di temani gemintang

Terdengar lirih tapi begitu nyata menghiasi malam
Ratapan resah,gelisah dan gundah
Dari tubuh-tubuh lelah

Lelah memikul mimpi, obsesisi tak lain nafsu yang membuat lupa
Lupa akan hakikat hidup, mewarnai hidup, bahwa hidup untuk mati
Bahwa mati untuk menepati janji

Begitu juga sang rembulan sore tadi
Sinarnya cerminkan lelah, lelah melawn zaman
Lelah melawan lompu2 kota yang menebar uforia
Menindih tubuh2 rapuh, yang segera hayut, larut terbawa jaman

Hidup ini untuk mati teman
Jangan terlalu larut, karena petang pasti akan datang
Aku pengingatmu, begitu juga jangan lupa ingatkan aku kalo petang kan segera datang


9 komentar:

  1. apik tenan puisine... apalagi yang bait ke-6

    BalasHapus
  2. makasih smua,
    sekedar luapan saat merasa sendiri di tengah keramaian
    Cuma penyampainnya kayaknya msh belum runut

    BalasHapus
  3. baguuuuusssss, aku sangat suka senja

    BalasHapus
  4. Makasih, dikritisi dunk!!!
    Masalahe kalo di baca ulang sendiri, masih kurang puas gtuuu.
    Gimana bukunya, kapan lounching?

    BalasHapus
  5. gak sangka niy om iyek ...
    melow banget ya ...

    BalasHapus
  6. melooooooooowwwwwww
    melow dr mana ya
    ato melok sopo?
    wkkkk
    memang mungkin setipa manusia punya sisi2 yang masih tersembunyi
    tinggal tunggu waktu aja kapan nongolnya
    preman sangar tatoan aj pas gempa jogja kemaren ngacir duluan!!!!!!!!!!!

    BalasHapus