Hari sudah malam rupanya
Sesaat yang lalu tawa tangis, canda ratab, sorak isak, puji maki, terdengar riuh saling berganti
Tiba-tiba berganti kesunyian semu
Sesaat detak kesadaran seolah berhenti, ketika sederet aksara teruntai bak cerita anak manusia melintas begitu saja di depan mata yang semakin sayu menatap rutinitas pergantian waktu tak lagi berbinar mengharap esok pagi
Namun nuraninya tergelitik walaupun nalarnya seakan tak berjalan lagi
Merayap coba meraba makna, bak orang bijak menelaah kisah, coba memetik makna bait syair cerita anak manusia yang di terawangnya
Tiba-tiba logikanya berhenti, kembali jiwa lelahnya dibenamkan dalam-dalam dibiaranya dijerat erat helai-helai sutra kerapuhan, sesaat saat logikanya berkata “untuk apa”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar