892010
Mengikuti kedua kisahmu membuatku mual
Banyak hal diluar nalar dan penalaran
Kupikir perbedaan jender membuat beda cara berpikir kita
Bagi kami hidup harus dihitung, kalo begini jadi begitu, kalo begitu jadi begini, kalo begitu apa untungnya kalo begini apa ruginya
Tetapi bagi kalian hidup tak ubahnya permainan hati, hanya perlu sedikit tahu esensi selebihnya perasaan lebih mewarnai
Hehhhhhhhhhhhhh……
Aku semakin tak mengerti
Vonis Kisahmu si penyambut ajal
Vonis Kisahmu seakan si tak berdaya, karena karya kasar penalaran kami
Namun semakin ku mual membuatku tersadar akan kebodohanku, ketidak mengertianku, kesok tahuanku
Satu hisap dua hisap tiga hisap, satu batang dua batang tiga batang, sambil sesekali seteguk air berwarna coklat bening karena seduhan dahun yang di petik oleh wanita-wanita berkeringat yang tadi pagi sarapan dan membawa bekal sebungkus asa, menggelontor tenggorokan yang di lapisi lendir karena menghisap daun yang terbakar yang waktu lalu di petik oleh laki-laki tua bermandi peluh disiram terik matahaari
Otak bekerja semakin keras siring hati yang lamabat laun melayu menyadari kesombongan diri
Ternyata kau manusia, kamu manusia, aku manusia yang lebih sering salah bersandar dan menyandarkan setiap masalah karena terlalu asik dengan nalar yang kita lupakan siapa yang telah berikan
Hanya saja mungkin karena sok tahuku aku menilai kau dan kamu terlalu asik dengan sedikit penalaranmu
Sementara aku di sini Cuma berdiri mengawasi yang lebih sering lengah daripada melihat kalian, karena memang bukan itu karena sok tahuku kuanggap bukan garisku
Semakin mualku belum akan berakhir, semakin mualku semakin kunikmati untuk lebih menyadarkan diri
Terkecuali jerat yang ku jeratkan sendiri membuatku tak bisa beranjak ketika mata terbuka hati terbuka nalar bekerja ketika saksikansegumpal batu besar datang bergulung membara merah dengan ekor api menjilat panjang siap remukkan tubuh ini dan datang berkali kali samapi sisakan kotoran kecil yang sebabkan bau anyir seluruh muka bumi ini
Semoga jerat itu segera ku lebur luruh hanyut oleh air suci di sinari surya mentari pagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar