Aku merindukanmu, ketika rajutan benang-benang nylon warna warni terajut mengalung akar-akar pohon dan batu-batu cacat digerus asam anugerah Tuhan
Aku merindukanmu, ketika gemerincing logam melengkung beradu menyatukan sperangkat tautan nyawa
Aku merindukanmu, ketika seutas tali menjuntai menyuruak kedalam ruang dan waktu gulita menyimpan berjuta misteri
Aku merindukanmu, ketika jantung berdebar mengusir gelisah ketika seonggok tubuh ringkih menantang ajal
Aku merindukanmu, ketika depa demi depa tubuh merangsek menyambut senja menuju kegalapan abadi
Aku merindukanmu, ketika kepasrahan bergantung menciutkan nyali membungkam sumpah serapah yang sering tumpah dari mulut congkak yang lupa akan arti conkak
Aku merindukanmu, ketika rasa syukur terbersit sedikit, terjepit keakuan lupa akan perjalanan kecil menebar pukat menjaring mimpi kecil
Aku merindukanmu, ketika peluh mengalir membasahi raga terseka gelap terhapus binar-binar cahaya diatas kepala memberkas menimpa batu-batu besar kecil yang seakan berlomba menari, bersolek, melenggok coba pukau jadi saksi keagungan sistematis kuasa Ilahi tersimpan dalam kegelapan malu-malu takut dijamah tangan-tangan pendosa yang rakus walaupun tubuh telah terisi penuh batu-batu dan kotoran yang najis bersemayam, karena enggan berbagi bahagia dengan batu-batu dan kotoran, atau karena tubuh itu tidak pernah berbahagia
Aku merindukanmu, karena aku masih bermimpi cair bersama bulir-bulir air yang mengukir setiap relief yang ingin bercerita bertukar cinta dengan butir-butir air yang begitu mencintai insan-insan dahaga yang melupakan makna dahaga
Aku begitu merindukanmu, karena aku masih merindumu ingin berbagi cerita dengan sesame bersama orang-orang yang juga merindukanmu
Aku merindukanmu, saat kau berbisik lirih kau risau terusik dengan hadirku dan aku berkata, tetaplah lelap dengan pekatmu, aku hanya ingin sedikit mencumbumu, memcuri sedikit cinta dan perhatianmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar